Diarsipkan di bawah: Pilemburan
Braga ”Ngabaraga”
SUDAH berbagai cara dilakukan Pemerintah Kota Bandung untuk mengembalikan Jalan Braga ke kejayaan masa lalunya. Karena, kata Wali Kota Bandung, Dada Rosada, “Braga adalah ikon Kota Bandung.” Akan tetapi, Braga masih saja sepi. Di sana kemudian dibangun Braga City Walk (BCW) yang saat akan dibangun bervisi-misi merevitalisasi kawasan Braga. Kenyataannya, BCW hanya untuk BCW dan kepentingan bisnisnya, bukan untuk revitalisasi kawasan Braga.
Sebenarnya, tekad Pemerintah Kota Bandung sudah bagus. Braga ditata, trotoar dilebarkan, lampu-lampu dipasang, dan pohon ditanam. Suasana sudah terlihat mulai hidup. Kini, badan Jalan Braga akan diubah dengan batu candi. Braga akan dijadikan kawasan wisata, menjadi daerah pedestrian (pejalan kaki), menghilangkan kesan hiruk-pikuk kendaraan.
Dengan semua upaya itu diharapkan, Braga yang pernah dikatakan kuncen Bandung Haryoto Kunto berasal dari kata “ngabaraga” yang berarti tempat bergaya atau mejeng (the place to see and to be seen), akan kembali lagi.
”Matinya” Braga melewati proses yang panjang. Saat ini, hampir 40% toko di sepanjang Braga, tutup. Beberapa gedung milik negara, Gedung Gas misalnya, tidak terurus dan menjadi gedung hantu. Salah satu gedung sudah sangat aneh karena bukan hanya ditumbuhi lumut, melainkan pepohonan.
Sepertinya, langkah-langkah untuk memicu para pemilik bangunan ”bangkit kembali” adalah dengan mengeluarkan semacam peraturan atau imbauan dari Pemkot Bandung. Kalaupun tidak mampu, mereka dapat bekerja sama dengan pihak lain. Dengan demikian, Braga akan kembali ramai, tetapi aktivitas usaha di kawasan Braga harus memiliki kekhasan tersendiri, berupa produk-produk atau industri kreatif.
Langkah lain seperti yang sempat digagas Kepala Bapeda Kota Bandung, Tjetje Subrata dan Kadis Tata Kota Bandung, Juniarso Ridwan. Terinspirasi Bangkok-Chiang May (Thailand), cara meramaikan Braga adalah dengan membuat pasar weekend atau pasar malam, Braga merupakan alternatif yang pas.
Kalangan asosiasi kepariwisataan pun menyambut dengan gembira jika di Braga ada aktivitas ”Weekend Market” untuk membuatnya kembali hidup. Karena pada hakikatnya sejak dulu Braga adalah tempat ngabaraga pada akhir pekan. Kecuali untuk bersantai, Braga bisa dijadikan tempat nongkrong, minum kopi, dan jajan makanan-makanan khas. Di sini kita juga bisa mendapat hiburan, belanja berbagai macam oleh-oleh atau barang seni, fashion, distro, dan outlet. Menikmati musik dari berbagai aliran, dari tradisional hingga modern. Inilah lifestyle dan ikon Kota Bandung. (Diro Aritonang/”PR”)***
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan sebuah tanggapan
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>